Get Adobe Flash player
JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

PROPERTI

Teduh Di Hati, Masjid Agung Keraton Surakarta

Masjid bernuansa hijau kebiruan yang bernama lengkap Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat) ini pada masa pra-kemerdekaan adalah masjid agung milik kerajaan

Senin, 12 Agustus 2013 14:35 Alice | Red|
Teduh Di Hati, Masjid Agung Keraton Surakarta
Masjid bernuansa hijau kebiruan
Surakarta | POL

MELIHAT dari dekat arsitektur Masjid Agung Keraton Surakarta rasanya langsung meneduhkan hati dan pikiran.

Masjid bernuansa hijau kebiruan yang bernama lengkap Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat) ini pada masa pra-kemerdekaan adalah masjid agung milik kerajaan (Surakarta Hadiningrat) dan berfungsi selain sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat syiar Islam bagi warga kerajaan.

Pada tahun 1763, Sunan Pakubuwono III membangun Masjid Keraton Surakarta dan selesai pada tahun 1968. Masjid berkategori ‘masjid jami’ ini yaitu masjid yang digunakan untuk salat berjamaah dengan ukuran makmum besar (misalnya salat Jumat dan salat Ied). Selain itu juga digunakan sebagai pendukung segala keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti Grebeg dan festival Sekaten.

Raja (Sunan) Surakarta berfungsi sebagai panatagama (pengatur urusan agama) dan masjid ini menjadi pelaksana dari fungsi ini. Semua pegawai mesjid diangkat menjadi abdi dalem kraton, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (untuk penghulu) dan Lurah Muadzin untuk juru adzan.

Berdiri di atas lahan seluas 19.180 meter, Masjid Keraton Surakarta dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter yang dibangun pada masa Sunan Pakubuwana VIII tahun 1858. Area pagar lainnya juga dilengkapi dengan gapura di tiga pintu masuk, yaitu gapura utama berbentuk paduraksa berada di sisi timur menghadap alun-alun dan dua gapura kecil di sisi utara dan selatan.

Bangunan Masjid Surakarta yang merupakan gaya tradisional Jawa dan bergaya tajug. Sedangkan atapnya berpuncak mustaka (mahkota) dan beratap tumpang susun tiga.

Di kawasan masjid, ada beberapa bagian masjid yang memiliki fungsinya masing-masing, diantaranya adalah Serambi, mempunyai semacam lorong yang menjorok ke depan (tratag rambat) yang bagian depannya membentuk kuncung. Ruang Utama yang mempunyai empat saka guru dan dua belas saka rawa. Kelengkapan yang ada antara lain adalah mihrab, maksura, dan mimbar sebagai tempat khatib. Pawestren sebagai tempat salat untuk wanita dan balai rapat, dan tempat berwudhu.

Di halaman Masjid Keraton Surakarta, terdapat Pagongan, Istal, Gedung PGA Negeri, Menara Adzan, Istiwak, dan Gedang Selirang.

Pagongan, terdapat di sisi utara dan selatan setelah memasuki gapura utama masjid. Bentuk berupa pendapa dengan ukuran bangunan sama. Fungsinya adalah sebagai tempat gamelan kraton diletakkan dan dimainkan sewaktu perayaan Sekaten (festival memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Istal dan garasi kereta untuk raja ketika Shalat Jumat dan Grebeg, diperkirakan dibangun bersamaan dengan dibangunnya Masjid Agung Surakarta.

Gedung PGA Negeri, didirikan oleh Sunan Pakubuwono X (1914) dan menjadi milik kraton.

Menara adzan, mempunyai corak arsitektur terinsirasi dari Qutub Minar di Delhi, India. Didirikan pada tahun 1928 (masa Sunan Pakubuwono XI).

Istiwak, yaitu gnomon (pancang) yang menjadi bagian jam matahari untuk menentukan waktu shalat

Gedang Selirang, merupakan bangunan yang dipergunakan untuk para abdi dalem yang mengurusi masjid. POL

Dibaca 346 kali

Tinggalkan komentar....
PROPERTI
Makna dari Motif Ukiran Khas Toraja

Makna dari Motif Ukiran Khas Toraja

Ukiran simpul dan kotak melambangkan harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia